Selasa, 17 Maret 2009

SARANA PENDIDIKAN

Artikel 1
Judul:SARANA PENDIDIKAN DAN PENINGKATAN KESEJAHTERAAN GURU HARUS MENDAPAT PERHATIAN

Pengembangan sarana pendidikan, peningkatan kesejahteraan guru serta pelaksanaan kurikulum berbasis Kompetensi adalah tiga dari sekian banyak hal yang memerlukan perhatian semua pihak. ?Untuk memajukan ketiga hal tersebut kita tidak dapat bekerja sendiri. Oleh karena itu perlu bantuan dan dukungan serta partisipasi aktif dari masyarakat termasuk para orang tua murid, ?ujar Ny. Hj. Fauziah Diani Boediarto selaku Ketua umum yayasan Pertiwi dan Dharma Rini pada acara Silaturahmi dan perkenalan dengan seluruh jajaran pengurus yayasan Dharma Pertiwi dan Dharma Rini di SD Pertiwi Sukasari Bogor Timur, Kota Bogor, Jum?at (30/4) lalu.

Namun, kata Ny. Diani, kita harus optimis bahwa semua komponen termasuk komite Sekolah dan para orang tua murid akan senantiasa mengulurkan tangan untuk bekerjasama menghasilkan hal-ha yang terbaik bagi kepentingan anak-anak didik kita. Bagi, saya pribadi, sesungguhnya keberadaan kedua yayasan ini, tidaklah asing.Walaupun selama ini saya mengenalnya dari Jauh, Namun, saya mengetahui bahwa dibawah kepemimpinan Ibu Sewu Muthia Iswara dalam kurun lima tahun terakhir telah banyak memperlihatkan kemajuan dan prestasi, ?tuturnya.

Buktinya, menurut Ny. Diani dibawah kepemimpinan Ibu Sewu SD Pertiwi telah berkembang menjadi lembaga pendidikan dasar yang berkualitas dan berwibawa dengan berbagai perestasi baik di tingkat Kota Bogor maupun Jawa Barat. ?Keberhasilan itu tidak terlepas dari dukungan dari pengurus yayasan, kepala sekolah, para guru serta komite sekolah dan para orang tua murid.

Menurut dia, selama ini semua pihak telah bekerja keras untuk memberikan dukungan bagi kemajuan sekolah ini, sehingga hal itulah yang diharapkan akan tetap terpelihara dengan baik, dimasa mendatang.?Saya yakin bahwa prestasi yang diperoleh selama ini, masih dapat ditingkatkan lagi untuk memperkuat peranan nyata SD Pertiwi dan SLB (Sekolah Luar Biasa) Dharma Wanita Bogor dalam mendukung usaha meningkatkan mutu pendidikan di Kota Bogor, ?ungkapnya.

Lebih lanjut Ny, Hj. Fauziah Diani mengajak semua pihak untuk terus meningkatkan semangat pengabdian pada seluruh pelaksanaan program kerja yayasan di tahun- tahun mendatang. ? Kita harus yakin apapun yang dapat diberikan untuk kemajuan dunia pendidikan melalui yayasan ini, akan menghasilkan manfaat bagi masyarakat secara keseluruhan, karena melalui kegiatan di yayasan semata-mata untuk mengabdi kepada kepentingan kemanusian, katanya.


Artikel 2
Judul:Jangan Gunakan Sarana Pendidikan Untuk Berkampanye Politik
Saat ini marak sekali politisi ataupun para calon-calon mulai dari calon peserta pilkada…calon partai politik sampe dengan calon ngk jelas saling berlomba-lomba memajang dan pasang muka serta aksi dimedia-media tanah air. hanya 1 tujuan mereka, hanya 1 kata, hanya itu yang mereka harapkaan..”popular”. ya media memegang pengaruh penting untuk para calon politisi itu untuk meraup banyak pendukung dan memperoleh popularitas yang tinggi dengan harapan mereka akan menjadi peserta yang dipilih oleh banyak orang.salah satu materi yang tak pernah dilupakan para politisi dalam berkampanye dimedia adalah hal pendidikan. Mulai dari modeliklan anak-anak SD, SMP bahkan SMA serta tak lupa bangunan pendidikan. Mungkin pada jaman ini, pendidikan merupakan salah satu daya terik yang diperhitungkan. Muai dari kampanye akan pengadaan pendidikan gratis…pemerataan pendidikan hingga ini itu mengenai pendidikan.

Salah satu contoh nyata adalah, kala kampanye salah satu calon gubernur di Jawa TImur entah siapa waktu itu calonnya, dimana pihak tim sukses mengadakan acara dangdut tapi apa yang datang malah siswa sekolah. Jelas saja hal seperti ini tidak memberikan persepsi untuk dunia pendidikan.

Ada baiknya, kalau ingin berkampanye sebaiknya materi nya dipertimbangkan dahulu. Boleh-boleh saja berjanji akan memberikan pendidikan gratis, atau sarana pendidikan diperbaiki bahkan sampai kesejahteraan guru yang akan ditingkatkan. Namun janji jangan hanya janji siapa berjanji harus ditepati


Artikel 3
Judul:Pengembangan Hutan Kota Sebagai Sarana Pendidikan Guna Mengembangkan Kecerdasan Pelajar
Fenomena yang terjadi akhir-akhir ini banyak sekali kota yang masih belum memiliki hutan kota. Ada juga kota yang sudah memiliki hutan kota tapi belum bisa merawat dan melestarikannya. Banyak sekali orang-orang yang melupakan hutan kota. Bahkan ada juga kota yang tidak bisa memanfaatkan hutan kotanya dengan baik, bahkan sebaliknya menggunakan hutan kota tidak sebagaimana semestinya seperti membuang sampah sembarangan di hutan kota, merusak fasilitas yang ada di sana, dan lain-lain. Ada beberapa contoh dari perusakan hutan kota akibat dari ketidakpedulian masyarakat kota terhadap kelestarian hutan kota yaitu di hutan kota dan taman yang dibuat Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang banyak yang dirusak warga. Hutan kota di Cikokol seluas satu hektar, misalnya, pagarnya sudah dibobol dan areal hutan dijadikan jalan pintas. Taman di Jalan TMP Taruna seluas 6.100 meter persegi setiap pagi dijadikan lokasi pembuangan sampah. Bahkan, lampu-lampu hias taman banyak yang dijarah. Taman Pujalidane di tepi Kali Cisadane, yang dijadikan taman bermain anak, juga sudah tak terawat lagi. Bangku-bangku yang ada sudah lenyap tanpa bekas. Pot-pot bunga yang ditaruh di jalan umum, antara lain di Jalan Ki Samaun, banyak yang dicuri, kalaupun ada yang tersisa, sudah dijadikan tempat sampah. (Kompas, 27 Maret 2003). Kondisi ini sangat memprihatinkan sekali, fakta yang terjadi pada hutan kota di Indonesia. Padahal Pemkot Tangerang membuat hutan kota sebagai penyeimbang agar kota ini tidak gersang. Masyarakat kota membutuhkan ruang terbuka hijau karena kota ini merupakan kota industri yang dikepung ribuan pabrik. Janganlah hal ini terjadi lagi di kota-kota lain di Indonesia. Lestarikan dan rawatlah hutan kota dengan sebaik-baiknya karena hutan kota memiliki banyak manfaat untuk penduduk kota yaitu sebagai sarana pengembang kecerdasan anak, mengurangi polusi udara, banjir, dan lain-lain. Dalam hal ini diharapkan setiap kota memiliki hutan kota sendiri agar manfaat hutan kota dapat terealisasikan dengan baik sekaligus dapat memperindah kota tersebut.

Hutan kota dapat memberikan kota yang nyaman sehat dan indah (estetis). Kita sangat membutuhkan hutan kota, untuk perlindungan dari berbagai masalah lingkungan perkotaan. Hutan kota mempunyai banyak fungsi (kegunaan dan manfaat). Hutan kota merupakan suatu ekosistem dan tidak sama dengan pengertian hutan selama ini. Definisi hutan menurut undang-undang nomor 41 tahun 1999 tentang kehutanan yang dimaksud dengan hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Sedangkan menurut Zoer'aini Djamal Irwan, dosen Universitas Trisakti Jakarta, hutan kota adalah komunitas tumbuh-tumbuhan berupa pohon dan asosiasinya yang tumbuh di lahan kota atau sekitar kota, berbentuk jalur, menyebar atau bergerombol (menumpuk) dengan struktur meniru (menyerupai) hutan alam, membentuk habitat yang memungkinkan kehidupan bagi satwa dan menimbulkan lingkungan sehat, nyaman, dan estetis.

Namun, ada beberapa kendala dalam pembangunan hutan kota. Menurut Zoer’aini Djamal Irwan (2005: 16) dalam buku Tantangan Lingkungan dan Lansekap Hutan Kota , kendala-kendala tersebut meliputi lahan untuk hutan kota semakin berkurang, semakin mahalnya lahan di kota, adanya perebutan kepentingan dalam penggunaan lahan di kota, persepsi tentang hutan kota belum berkembang, sementara masyarakat masih ada yang menganggap bahwa pembangunan hutan kota tidak menguntungkan. Dengan melihat fungsinya maka kita harus membangun dan mengembangkan hutan kota. Dari hasil penelitian yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa dengan membangun dan mengembangkan bentuk hutan kota serta membangun dan mengembangkan struktur hutan kota, maka kendala lahan dapat di modifikasi sehingga kita akan tetap dapat membangun dan mengembangkan hutan kota. Di samping itu secara bertahap kita selalu berusaha membangun dan mengembangkan persepsi tentang hutan kota.
Sekarang kita akan berbicara tentang fungsi hutan kota menurut Irwan (2005: 66 – 78) dalam buku Tantangan Lingkungan dan Lansekap Hutan Kota, hutan kota memiliki tiga fungsi utama, antara lain: 1. Fungsi lansekap. Fungsi lansekap meliputi fungsi fisik dan fungsi sosial.
a. Fungsi fisik, yaitu berfungsi antara lain untuk perlindungan terhadap angin, sinar matahari, pemandangan yang kurang bagus dan terhadap bau, sebagai pemersatu, penegas, pengenal, pelembut, dan pembingkai.
b. Fungsi sosial. Penataan tumbuh-tumbuhan dalam hutan kota dengan baik akan memberikan tempat interaksi sosial yang sangat menyenangkan. Hutan kota dengan aneka ragam tumbuh-tumbuhan mengandung nilai-nilai ilmiah sehingga hutan kota dapat sebagai laboratorium hidup untuk sarana pendidikan dan penelitian. Fungsi kesehatan misalnya untuk terapi mata dan mental serta fungsi rekreasi, olah raga, dan tempat interaksi sosial lainnya. Fungsi sosial politik ekonomi misalnya untuk persahabatan antar negara. Hutan kota dapat memberikan hasil tambahan secara ekonomi untuk kesejahteraan penduduk seperti buah-buahan, kayu, obat-obatan sebagai warung hidup dan apotek hidup.2. Fungsi pelestarian lingkungan
  • Menyegarkan udara atau sebagai paru – paru kota
  • Menurunkan suhu kota dan meningkatkan kelembaban
  • Sebagai ruang hidup satwa
  • Penyangga dan pelindung permukaan tanah dan erosi
  • Mengendalikan dan mengurangi polusi udara dan limbah
  • Peredam kebisingan dan menyuburkan tanah
3. Fungsi estetika (keindahan)
Tetapi dalam hal ini kita akan membahas tentang fungsi hutan kota sebagai sarana pendidikan guna mengembangkan kecerdasan para pelajar. Kita dapat memanfaatkan hutan kota sebagai sarana penelitian tentang tumbuh-tumbuhan serta aneka satwa sekaligus memperkenalkan beragam jenis tumbuhan dan satwa kepada para pelajar. Di samping itu kita bisa membangun perpustakaan umum gratis di dalam hutan kota untuk memperdalam wawasan/pengetahuan pengunjung tentang hutan serta laboratorium perkembangbiakan tanaman dan hewan sehingga para pelajar dapat melakukan percobaan/penelitian tentang perawatan tanaman dan satwa sehingga mereka dapat mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk anak-anak dapat dibangun taman bermain guna melatih kecerdasan kinestetik anak. Selain itu, dapat diberi fasilitas-fasilitas outbond yang kini banyak digandrungi oleh pelajar untuk melatih softkill yang mereka miliki seperti team work, team building, manajemen organisasi, leadership serta penghilang stress dan masih banyak lagi. Fasilitas-fasilitas tersebut misalnya kolam yang tidak airnya yang diatasnya ada bambu panjang yang akan digunakan untuk menyeberangi kolam untuk melatih keseimbangan dan konsentrasi, tali yang berada di antara pohon yang digunakan untuk meniti tali atau untuk flying fox guna melatih keberanian dan kepercayaan diri, disusun balok-balok kayu yang pendek yang atasnya diberi tali untuk melakukan gerakan merayap berguna melatih kehati-hatian dan kesabaran dalam bertindak, lahan kosong untuk berbagai permainan outbond, dan lain-lain. Banyak sekali sekolah-sekolah maupun universitas yang memerlukan fasilitas outbond seperti ini untuk latihan dasar kepemimpinan, outbond motivasi dan kerjasama, ospek mahasiswa, bahkan digunakan outbond oleh para pegawai perkantoran/perusahaan untuk meningkatkan kinerja para pekerjanya. Dengan adanya fasilitas outbond yang ada dalam kota mereka tidak perlu susah-susah mencari tempat outbond di luar kota yang memerlukan biaya yang cukup banyak, cukup di dalam kota dengan biaya yang cukup rendah bahkan bisa digratiskan tergantung kebijakan masing-masing pemerintah kota. Hutan kota pun dapat dikunjungi oleh semua orang. Dengan demikian sarana pendidikan yang ada di hutan kota dapat dioptimalkan dengan sebaik-baiknya. Sehingga kecerdasan pelajar baik mental maupun fisik dapat dikembangkan dengan sempurna. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Dr. Gardner, profesor bidang pendidikan di Universitas Harvard, tentang 8 jenis kecerdasan yaitu: 1. Kecerdasan Verbal - Linguistik Kemampuan menggunakan perkataan secara berkesan sama ada secara lisan atau tulisan, termasuk – kebolehan memanipulasikan ayat, gaya bahasa dan pengucapan dengan baik dan sempurna. Contoh aktifitas: perbahasan, perbendaharaan kata, ucapan formal, penulisan kreatif, bacaan, jurnal, diari, puisi, jenakaan bercerita. 2. Kecerdasan Logik - Matematik Kebolehan menggunakan nombor, menaakul, mengenal pasti pola abstrak, perkaitan, sebab dan akibat (logik). Melibatkan pemikiran saintifik, termasuk pemikiran secara heuristik, induktif dan deduktif, membuat inferens, mengkategori, generalisasi, perhitungan dan pengujian hipotesis. Contoh aktifitas: penggunaan simbol, rumus, urutan nombor, pola abstrak, perkaitan sebab dan akibat (logik), penyelesaian masalah, pengurusan grafik dan pengiraan. 3. Kecerdasan Fisikal - Kinestetik Berkaitan dengan pergerakan dan kemahiran fisikal seperti koordinasi, keseimbangan dan kelenturan badan. Menggunakan anggota badan untuk meluahkan idea dan perasaan. Contoh aktifitas: tarian kreatif, drama, main peranan, aktifitas jasmani, latihan fisikal, dan seni pertahanan iri. 4. Kecerdasan Visual - Spasial Kebolehan mencipta gambaran mental dan mengamati dunia visual. Berkepekaan terhadap warna, garis, rentuk dan ruang. Berkebolehan menvisual secara spatial dan mengorientasi diri dalam matriks ruang. Contoh aktifitas: melukis, mengecat, skema warna, garis rentuk dan ruang, mencipta gambaran mental, imaginasi aktif, peta minda, menvisual secara spasial dan mengorientasi diri dalam matriks ruang. 5. Kecerdasan Musikal - Ritme Kemampuan untuk menggemari, mendiskriminasi dan meluahkan perasaan melalui musik. Kecenderungan ini termasuk kepekaan terhadap ritme, melodi atau kelangsingan suatu hasil musik. Contoh aktifitas: persembahan musik, bunyi vokal, bunyi instrumental, nyanyian dan drama lagu. 6. Kecerdasan Intrapersonal Berpengetahuan sendiri dan berkebolehan untuk menilai diri sendiri. Mempunyai gambaran yang tepat tentang diri sendiri, kesadaran terhadap mood, kehendak, motivasi, kemarahan, dorongan dan kemampuan untuk mendisiplinkan diri dan jati diri. Contoh aktifitas: teknik metakognisi, strategi pemikiran, proses emosi, praktik mind fullness, perilaku tahap tinggi, disiplin diri, dan amalan pemusatan. 7. Kecerdasan Interpersonal Kemampuan untuk mendiskriminasi antara pelbagai petanda interpersonal dan kebolehan untuk berkomunikasi dengan berkesan secara pragmatik terhadap petanda tersebut. Contoh aktifitas: komunikasi antara individu, latihan empati, latihan kolaboratif, strategi pembelajaran kooperatif dan bekerja sama 8. Kecerdasan Naturalis
Mengenali, menyusun dan mengkategorikan pelbagai jenis flora dan fauna.

Oleh karena itu, dengan adanya sarana pendidikan seperti itu, secara tidak langsung kita membantu pendidikan di dalam kota dengan meningkatkan delapan kecerdasan yang dimiliki oleh setiap pelajar. Dan hutan kota dapat dijadikan sebagai wisata pembelajaran (study tour) oleh sekolah-sekolah maupun universitas dalam kota untuk mengembangkan kemampuan pembelajaran anak didiknya. Sekaligus dengan adanya fasilitas semacam ini dapat menghemat keuangan lembaga pendidikan dalam mengadakan study tour untuk para pelajarnya.


Artikel 4
Judul:Sarana Pendidikan di AUSTRALIA Kian
Menin
KabarIndonesia - Australia telah mengembangkan suatu kerangka kurikulum nasional, untuk memastikan standar-standar akademik yang tinggi di seluruh Australia.

Semua sekolah menyediakan mata pelajaran dalam delapan bidang pelajaran utama yaitu Bahasa Inggris, Matematika, Ilmu Kemasyarakatan dan Lingkungan Hidup, Sains, Kesenian, Bahasa selain bahasa Inggris, Teknologi dan Pengembangan Pribadi, Pendidikan Kesehatan dan Jasmani.

Di tingkat menengah, sekolah-sekolah dapat menawarkan berbagai macam pilihan mata pelajaran, yang disampaikan oleh para pengajar yang amat terlatih dan berpengalaman, serta mempergunakan teknologi yang sangat canggih dan mutakhir termasuk Internet, bahan-bahan CD-ROM, peralatan multimedia dan laboratorium.

Banyak siswa yang menggunakan program studi menengah atas, untuk mencapai kualifikasi yang diperlukan untuk masuk ke universitas. Sekitar sembilan dari setiap sepuluh sekolah menengah Australia juga menawarkan program-program studi kejuruan di samping kurikulum sekolah standar.

Selain itu, kurikulum sekolah di Australia mencakup berbagai ketrampilan dan peminatan siswa. Drama, musik, kesenian, ketrampilan berdebat dan pidato, serta kegiatan olahraga tim maupun perorangan, semuanya ditingkatkan melalui kerjasama dan kompetisi antar sekolah.

Dengan suatu sistem sekolah di Australia, yang menyampaikan pelatihan kejuruan yang praktis dan sekaligus berorientasi pada karier, siswa mencari pekerjaan dengan menyadari bahwa ketrampilan-ketrampilan mereka dibutuhkan oleh para pengguna jasa.

Di sini tersedia penasihat siswa internasional, yang akan membantu mengambil keputusan yang matang tentang di tingkat mana anak dapat masuk ke sistem sekolah di Australia.

Tahun akademik sekolah di Australia dibagi menjadi empat periode dan berlangsung mulai akhir Januari sampai Desember. Antara tipa periode tersebut ada liburan pendek dan ada liburan panjang musim panas pada bulan Desember dan Januari.


Artikel 5
Judul:

Pengadaan Sarana Pendidikan Diduga Digelembungkan

Samarinda, Kompas - Daftar usulan kegiatan (DUK) Kota Samarinda tahun 2003 diduga diwarnai upaya penggelembungan nilai sejumlah proyek pengadaan dari Dinas Pendidikan setempat secara tidak wajar.

Sebagai contoh untuk merehabilitasi 15 pintu SLTP Negeri 19 Samarinda diusulkan sebesar Rp 75 juta, sedangkan pengadaan 20 unit komputer di SLTP Negeri Samarinda diusulkan sebesar Rp 1,5 milyar.

Demikian diungkapkan Helen Suyatno dari Pokja 30 di Samarinda, Kamis (23/1). Pokja 30 adalah salah satu lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Samarinda yang mencermati hal-hal yang berkait dengan penyusunan rancangan anggaran pendapatan dan belanja daerah (RAPBD) maupun realisasi penggunaan dana dari APBD di sejumlah daerah di Kalimantan Timur (Kaltim).

Pengajuan usulan yang seperti itu, menurut Helen, sangat jelas menunjukkan adanya upaya mark up yang keterlaluan. Satu daun pintu, misalnya, dihargai Rp 5 juta, sedangkan satu unit komputer dihargai Rp 75 juta.

Malah, "Pengadaan satu unit mesin tik elektronik SMKN 9 Samarinda juga dianggarkan sebesar Rp 75 juta," katanya. Helen kemudian membandingkan pengadaan 40 unit mesin tik di SMK Muhammadiyah I Samarinda Ilir yang diusulkan Rp 70 juta atau Rp 1.750.000 per unit.

Secara terpisah, anggota DPRD Kota Samarinda, Yayan Aliyansah secara tegas menyatakan akan menolak anggaran yang tidak masuk akal tersebut jika pihak eksekutif nekad mengajukannya dalam RAPBD 2003. "Jelas kita punya acuan yang wajar atas proyek yang diselenggarakan. Dalam hal ini tentu kelihatan ketidakwajaran usulan harga pengadaan barang-barang untuk kepentingan pendidikan itu," tegas Yayan.

Sementara itu, Sekretaris Kota Samarinda HM Saili menyatakan bahwa usulan tersebut belum masuk dalam RAPBD. "Ketidakwajaran dalam usulan proyek tentu akan terpantau oleh instansi terkait sehingga dapat dicegah kemungkinan adanya penggelembungan harga," katanya.

RAPBD 2003 Kota Samarinda diusulkan sebesar Rp 657,907 atau meningkat dibanding tahun lalu sebesar Rp 605,363 milyar. Sebagian besar anggaran tersedot untuk pengeluaran rutin di kota yang menanggung beban karena kelebihan pegawai hingga 5.000 orang lebih.

Tidak Patut

Apa pun alasannya, kata Helen, pengajuan usulan yang sangat jelas mengindikasikan adanya penggelembungan seperti itu sangatlah tidak patut. Sebab, dalam penyusunan RAPBD semestinya ada acuan penentuan harga dalam mengajukan usulan anggaran. "Tampaknya norma tersebut diabaikan," katanya.

Helen menambahkan, pengadaan komputer di sekolah-sekolah yang masih dinilai wajar pun sebenarnya masih membingungkan karena terjadi selisih perbedaan harga. Sebagai contoh, pengadaan satu unit komputer untuk MTs Antasari Samarinda dianggarkan Rp 20 juta. Sedangkan di SLTPN 20 Samarinda dianggarkan Rp 17 juta.

Untuk itu, Pokja 30 bahkan sudah mengadakan survei harga ke sejumlah distributor komputer di Samarinda. Hasilnya, harga komputer dengan fasilitas paling lengkap pun tak sampai sebesar usulan itu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar